Wireless Sensor Network Monitoring Suhu, Kelembaban, Getaran dan Bau dengan Sistem Pentransmisian MQTT

Published on Dec 4, 2020
· DOI :10.22219/REPOSITOR.V2I12.536
Ahmad Fahri Jamaluddin , Diah Risqiwati2
Estimated H-index: 2
,
Fauzi Dwi Setiawan Sumadi4
Estimated H-index: 4
Sources
Abstract
Abstrak M emelihara burung merupakan salah satu hobi masyarakat Indonesia. Kebutuhan gizi dan nutrisi berupa protein pada burung dapat diperoleh dari suatu makanan salah satu makanan burung kroto atau telur semut rangrang. Pada budidaya semut rangrang, suhu dan kelembaban dapat mempengaruhi semut rangrang dalam bertelur. Masalah yang dihadapi saat ini pada budidaya semut rangrang adalah peternak tidak dapat memperkirakan kondisi suhu dan kelembaban. Mereka hanya memperkirakan suhu dan kelembaban dengan merasakan panas di dalam ruangan. Adapun masalah lain yang dihadapi adalah adanya getaran dan bau kimia di sekitar toples tempat semut rangrang di budidaya yang dapat membuat semut stress dan dapat menurunkan hasil produksi kroto. Dari permasalahan ini dilakukan penelitian dengan membuatan model pengatur suhu, kelembaban, getaran dan bau kimia dapat dimanfaatkan untuk menggunakan mikrokontroler Arduino UNO, sensor DHT11, sensor SW-420 dan sensor MQ-02 pada ruang budidaya semut rangrang dengan menggunakan system pentransmisian MQTT (Message Queuing Telemetry Transport). Alat ini akan mempermudah budidaya untuk mengatur nilai suhu, kelembaban, getaran dan bau kimia di dalam ruang budidaya tersebut. Alat ini menggunakan mist maker sebagai alat penghasil uap dan buzzer sebagai alarm secara otomatis agar budidaya semut rangrang stabil dan menghasilkan produksi kroto yang berkualitas . Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jarak mempengaruhi kuat sinyal dan delay atau selisih waktu transmisi data yang mana pada jarak 5m sampai jarak 7m sinyal semakin melemah dan rata-rata selisih waktu transmisi data betambah sekitar 5.1 sec hingga 5.9 sec. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa sistem pentrasmisian MQTT yang menggunakan ESP8266 memiliki rata-rata jumlah packet loss secara keseluruhan sebesar 35% . Abstract Caring of birds is one of society hobbies in Indonesia. Nutritional needs and nutrients in the form of proteins in birds can be obtained from food which is kroto bird food or weaver ant egg. In the weaver ant cultivation, temperature and humidity can affect the weaver ant in laying eggs. The problem of weaver ants cultivation is the farmer cannot predict the conditions of temperature and humidity. They only estimate the temperature and humidity by feeling heat in the room. The other problem faced is the presence of vibration and chemical odors around the jar where the weaver ants process of cultivation can make they stress and reduce the production of kroto. From this problem, research is carried out by making a models of temperature, humidity, vibration and chemical odors can be ultilized by using arduino uno microcontroller, DHT11 sensor, SW-420 sensor and MQ-02 sensor in the space of weaver ants cultivation by using the MQTT (Message Queuing Telemetry Transport) transmission system. This tool will make the cultivation easier to regulate the value of temperature, humidity, vibration and chemical odors in the space of cultivation. This tool uses a mist maker as steam generator and buzzer as an automatic alarm so that the cultivation of the weaver ants is stable and produces quality of kroto production. The results of this study indicate that the distance affects the signal strength and delay or difference in data transmission time which at a distance of 5m to a distance of 7m the signal weakens and the average difference in data transmission time increases around 5.1 sec to 5.9 sec. The results of this study also indicate that the MQTT transmission system that uses ESP8266 has an average number of packet loss overall of 35%.
References0
Newest
Cited By0
Newest